Ilmu, Realitas, Rasa dan Perbedaan
Pada
tanggal 27 November 2018 mata kuliah filsafat
pendidikan di kelas B. Bapak Moh.Aniq KHB menjelaskan tentang ilmu, realitas, rasa dan
perbedaan. Pengertian dari rasa sendiri ialah sesuatu yang tidak terlihat tapi
diyakini keberadaanya. Dapat berpengaruh terhadap semuanya. Contoh: jika ada
tamu jangan sampai tamu tersebut menunggu lama, kita harus segera memberinya
jamuan. Contoh lain seperti ada beberapa orang yang sedang menuntut ilmu pasti
hasilnya akan beragam sebagian ada yang pintar dan sebagaian ada yang kurang
pintar, nah itulah perbedaan. Kita juga dapat membedakan antara baik dan buruk.
Kita
sebagai manusia harus melakukan sesuatu sesuai kemampuannya. Walaupun hanya sesuai
dengan kemampuan kita, bukan berarti tidak ada keseriusan. Prinsip / principle/
principal adalah suatu kebenaran
umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok sebagai sebuah
pedoman untuk berpikir atau bertindak. Penciptaan awal itu tidak bisa
dibohongi. Contoh: jika orang lain tidak memperingati maulid nabi kamu tidak
perlu memaksa mereka untuk memperingati. Dan jika kamu memperingati hari maulid
nabi tidak perlu juga memaksa mereka yang tidak memeperingati. Kita harus
saling toleransi.
Dalam perbedaan itu harus ada toleransi/mengerti
satu sama lain. Belajar apapun tidak seharusnya memutlakan apa yang menjadi
pendapat kita. Contoh: Fakultatif belum tentu universal, tetapi jika universal
bisa jadi memuat fakultatif.
Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu dengan metode
tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan hal-hal tertentu dalam
pengetahuan atau kepandaian tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin, dsb.
Ilmu itu realitas, ejawantah/manifestasi tanpa batas. Lebih jelasnya lagi ilmu
ada karena realitas, realitas melahirkan ilmu lagi dan kembali lagi pada ilmu
yang melahirkan realitas atau hasil pemikiran. Tidak semua realitas bisa
dipahami sehingga membuat kita berpikir bagaimana mencari tahu agar kita bisa
memahami itu juga disebut ilmu. Ilmu pun dibagi menjadi beberapa bagian yang
pada intinya akan kembali ke ilmu lagi. Contoh seperti dalam agama kita percaya
adanya Tuhan tapi kita meyakininya ada walaupun realitasnya kita tidak tahu
dimana keberadaannya. Dan contoh lainnya kita melihat seseorang yang badannya
penuh dengan tato, kita pasti berpikiran buruk terhadapnya. Meskipun masa
lalunya memang sebagai preman dan pembunuh bayaran. Tetapi sekarang realitasnya seseorang bertato itu sering mengikuti
majelis-majelis keagamaan. Kita bisa menganggap seperti itu tapi realitasnya
atau kenyataannya berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar